Kesehatan Gratis, mungkinkah atau bahasa politis semata?

28 09 2011

Seringkali saya mendengar, melihat (membaca tentunya) tentang janji-janji calon pemimpin yang akan berkompetisi di daerah mengenai kesehatan gratis. Walaupun menurut saya terkesan absurd tapi faktanya banyak pemilih yang berharap banyak pada janji-janji tersebut.

Mungkin ngga sih kesehatan gratis itu?

Kesalahpahaman dalam masyarakat perlu di luruskan. Masyarakat kebanyakan terutama dari kelompok ekonomi miskin memahami kesehatan gratis itu sebagai sesuatu yang benar-benar mutlak gratis. Faktanya? Mereka masih dibebani dengan membayar biaya-biaya tertentu yang tidak sedikit, dah bahkan pada masyarakat miskin benar-benar tidak mampu dijangkau. Nah, kalau sudah begini, siapakah yang salah? Yang memberi janji, atau yang salah memahami makna “gratis”?

Seperti juga sekolah gratis, pada akhirnya orang tua juga tetap dibebani biaya-biaya tak terduga. Sama halnya dengan kesehatan gratis, biaya kesehatan bukanlah jumlah biaya yang sedikit dan untuk memberi label “gratis” membutuhkan banyak kajian yang bahkan hingga saat ini pun pemerintah, menurut saya, belum memiliki kajian komprehensif tentang itu. Apa buktinya? Banyak klaim pasien miskin dari rumah sakit-rumah sakit yang belum terbayar, entah karena tidak ada biaya atau mungkin sebab-sebab lain yang saya tidak tau. Kesimpulannya, bahkan pengelola negara ini saja hingga aparat daerah masih kesulitan meng-cover biaya kesehatan untuk masyarakat miskin padahal mereka memiliki data yang cukup lengkap (walaupun belum tentu terbarukan). Apalagi para calon pimpinan baru yang belum tentu memiliki data detail.

Tanpa bermaksud meremehkan, tetapi kalau cuman memiliki data pendapatan daerah, jumlah penduduk, hingga jumlah pelayanan kesehatan yang ada, itu belum cukup untuk dapat menghitung kemampuan pendapatan daerah untuk membiayai masyarakat miskin bahkan seluruh penduduk di daerah tersebut. Banyak kajian epidemiologi yang harus dilakukan, dan saya tidak yakin semua calon pimpinan daerah itu melakukan kajian sedalam itu. Dengan melakukan kajian yang dalam, barulah berani memutuskan berapa besar kemampuan daerah meng-cover biaya kesehatan masyarakatnya, karena pada hakikatnya tidak ada yang gratis. Bukankah kalau semua serba gratis malah sebenarnya tidak mendidik masyarakat untuk menjaga kesehatannya?


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s