Tarif pelayanan, antara harapan dan kenyataan

25 10 2008

Pernah berobat ke rumah sakit/puskesmas? Berarti pernah membayar tarif retribusi hingga pelayanan dong? Pernah tidak bertanya bagaimana tarif ditentukan? Pasti juga pernah kan protes karena merasa tarifnya terlalu mahal? Tarif pelayanan dapat dilihat dari beberapa versi. Yang biasa terjadi adalah tarif mahal-mutu tinggi, atau tarif murah-mutu rendah. Kalau yang kadang-kadang terjadi tarif mahal-mutu rendah, semantara yang sulit diterapkan adalah tarif murah-mutu tinggi.

Besaran tarif pelayanan dipengaruhi oleh banyak hal, biaya-biaya (listrik-air-telp-pemeliharaan gedung-gaji-dll) ditambah juga dengan harga-harga alat kesehatan sampai dengan obat ikut mempengaruhi besaran tarif pelayanan. Efektifitas dan efisiensi yang dilakukan pada sebuah institusi kesehatan pun secara global dapat berpengaruh pada besaran tarif yang dikeluarkan. Nah, apakah itu artinya tarif pelayanan kesehatan harus mahal?

Untuk menentukan tarif, diperlukan analisis mengenai besarnya biaya pelayanan. Beberapa metode yang sering diterapkan adalah dengan metode doubled distribution dan activity-based costing. Ya, benar, kedua metode ini diadopsi dari perhitungan biaya per unit seperti yang sudah diterapkan di perusahaan-perusahaan manufaktur, tentunya setelah disesuaikan dengan kondisi proses bisnis di rumah sakit. Besaran biaya dari analisis ini-lah yang nantinya digunakan sebagai dasar pijakan untuk menentukan besaran tarif yang ditetapkan. Namun, ternyata tidak berhenti sampai disitu, perlu dilakukan kajian perbandingan terhadap tarif pesaing di sekitar rumah sakit, hingga penjumlahan komponen proyeksi keuntungan termasuk didalamnya mempertimbangkan kemampuan dan kemauan bayar masyarakat. Ribet? Mungkin saja, apalagi untuk rumah sakit masa kini yang harus mampu memberikan pelayanan bagi berbagai pihak baik kaya maupun miskin.

Ironi yang terjadi, dari beberapa kali ikut melakukan analisis biaya di beberapa rumah sakit pemerintah, belum pernah saya menemukan besaran biaya per unit di bawah tarif yang berlaku, selalu di atasnya. Artinya, selama ini pemerintah sebenarnya masih selalu mensubsidi biaya pelayanan di rumah sakit pemerintah, disamping upaya-upaya strategi pengelolaan keuangan lain yang dijalankan oleh rumah sakit tentunya. Entah mengapa saya tidak berani menjustifikasi terjadi in-efisiensi atau en-efektif kegiatan-kegiatan di rumah sakit, namun begitulah kenyataannya bahwa biaya operasional rumah sakit sangat tinggi.

Hingga saat ini, pemerintah masih berupaya menyamaratakan (dengan proporsi normal) tarif-tarif pelayanan di seluruh Indonesia. Sebatas ide ini saya sangat setuju, namun, apakah sumber data dan validitas data yang diperoleh dari rumah sakit bisa tinggi sehingga besaran angka apabila nantinya tarifnya disamakan (entah dengan DRG atau apapun lah) dapat mewakili setiap rumah sakit. Jangan-jangan malah menguntungkan rumah sakit tertentu dan sebaliknya ada rumah sakit yang dirugikan.

Yah, pada akhirnya hingga saat ini, masih ada celah antara harapan dan kenyataan pada tarif itu sendiri. Masyarakat ingin tarif murah dengan kualitas tinggi, sementara dari sisi provider berupaya menutupi biaya operasional dengan mencoba mengangkat tarif pada angka yang dapat dinegosiasikan dengan pihak pembayar. Kapan yah bisa ketemu?


Actions

Information

2 responses

25 10 2008
Juragan Bus

Kenapa kalo pasien di RSU, sering dapat anggur dan kentang?
Maksudnya,dianggurke dan dikentang kentang. (dicuekin).
Padahal sama2 bayar. Mending di swasta.

Bahkan ada tarif general check up, RSU malah lebih mahal dari Swasta, padahal item yg dicek di swasta lebih banyak dan lebih baik pelayanannya.

Aneh…

25 10 2008
Yuddi

@Juragan Bus,
Wah sebenernya bukan kapasitas saya menjawab..
saya hanya bisa menduga kalau mungkin investasi lebih besar sehingga biaya yang di tanggung pun lebih banyak, bahkan setelah subsidi sekalipun… akhirnya tarif lah melambung..
Kan kita sama2 tau berapa besar alokasi dana kesehatan di indonesia.. monggo bisa di check di tulisan saya tentang anggaran kesehatan ..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s