Senyum anda bikin kami sehat

5 04 2008

Masih ingat pengalaman saya saat masih duduk di bangku SD dan SMP di sebuah pulau kecil di bagian utara propinsi Kalimantan Timur, Pulau Bunyu namanya. Karena mendapat fasilitas pengobatan dari tempat Bapak saya bekerja, maka setiap sakit saya bisa berobat dengan gratis di rumah sakit perusahaan tersebut. Konon fasilitas-fasilitas ini lah yang membuat banyak pemuda di negeri saat itu ingin bekerja di perusahaan tersebut. Pengalaman pertama pergi ke rumah sakit sendiri adalah pengalaman yang tidak terlupakan buat saya. Senyum yang hampir tidak tampak di wajah petugas pendaftaran bahkan sampai dengan dokter dan petugas farmasi sama sekali tidak tampak tersenyum. Senyum mereka hanya tampak apabila menemui, pasien yang merupakan teman atau kerabat mereka. Tetapi anehnya saya senang sekali setelah menerima resep dari dokter itu, seorang dokter sepuh yang – katanya – pensiunan dari Angkatan Laut.

Kalau kita percepat waktu kembali kepada keadaan sekarang, tidak sedikit institusi kesehatan yang mengadopsi suasana di lobi hotel atau bank. Sapaan ramah petugas keamanan sembari membukakan pintu, bertanya tentang keperluan, hingga ucapan terima kasih yang – tampak – tulus dari petugas keuangan setelah pasien membayar sejumlah uang yang seringkali tidak sedikit. Semua ternyata membantu mengurangi sakit pasien, tidak percaya? Mari kita perhatikan di institusi kesehatan terdekat yang mengadopsi sistem ini. Tidak sedikit pasien yang datang adalah pasien kunjungan ulang, dan ternyata mereka belum sembuh! Tetapi mereka patuh dengan anjuran dokter untuk kembali lagi tanpa ingin pindah ke lain institusi hanya demi mengejar sebuah kesembuhan. Buat mereka, pelayanan yang mereka terima adalah sesuatu yang berharga untuk mengurangi sakit yang mereka rasakan.

Dua keadaan yang sangat bertolak belakang bukan? Ilustrasi yang pertama saya berikan mungkin kerap di temui pada masa terdahulu. Tapi kini, seandainya institusi pelayanan kesehatan tidak mulai mengadopsi seperti ilustrasi yang saya gambarkan pada keadaan kedua, hampir pasti banyak pasien non fanatik yang akan berpindah ke institusi pelayanan kesehatan lainnya. Semua ini terjadi karena kebutuhan masyarakat ternyata sudah semakin bergeser. Mereka tidak hanya butuh sembuh, tetapi pelayanan terbaik dan tertulus akan menjadi pilihan mereka. Padahal hanya dengan 1 tindakan TERSENYUM.. hebat bukan?

Nah, mengulang judul tulisan ini, buat para penyedia jasa pelayanan kesehatan, biasakanlah tersenyum. Karena senyum anda bikin kami sehat.


Actions

Information

2 responses

19 04 2008
sillystupidlife

Hiii, dokter… saya silly, gigi saya rada berubah warnanya karna suka minum kopi (I’m addicted to caffein soalnya)… Masih bisa diputihin gak yach… Warnanya juga gak bening banget karena saya sering mengkonsumsi antibiotik (dulunya)

usia 31 masih memungkinkan gak pasang kawat gigi?

Ehh,satu lagi… dokter praktek dimana sich, hehehe…πŸ™‚

salam kenal, makasih udah mampir dan comment di blog saya yang silly and rada stupid…πŸ™‚

-sil-

20 04 2008
-Yud-

Haha… saya gak praktek (atau lebih tepatnya belum praktek)
kebetulan saya lebih berminat di luar ruang praktek…

sedikit masukan buat giginya .. prinsipnya sih bisa ajah di lakukan bleaching, cuman hasilnya akan maksimal atau gak itu ada beberapa faktor yang berpengaruh (termasuk karena antibiotik itu loh)

terima kasih komennya .. salam kenal juga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s