Saya jadi tertarik untuk berbagi sedikit yang saya tau karena komentar dari Mas Eki di tulisan saya tentang Penghapusan Klas Perawatan di Rumah Sakit, yaitu tentang biaya pelayanan di Rumah Sakit. Terus terang sampai sekarang saya masih belum bisa paham dengan Rumah Sakit yang menerapkan sistem tarif tindakan yang bertingkat untuk setiap pelayanannya. Bayangkan saja, kita ambil contoh tindakan Foto Thorax di Instalasi Radiologi, masih ada Rumah Sakit yang membuat struktur tarif yang berbeda untuk Kelas I (satu), Kelas II(dua), dan Kelas III(tiga). Naif sekali menurut saya karena mulai dari alat foto, ukuran film, sampai dengan developer dan fixer-nya itu menggunakan bahan yang sama, bahkan dokter dan radiografernya pun yang itu-itu juga. Bagaimana mungkin ada perbedaan tarif? Contoh lain, kita ambil contoh tindakan Appendiktomi di Instalasi Bedah Sentral (Kamar Operasi), bagaimana bisa ada perbedaan tarif untuk Kelas I, Kelas II, dan Kelas III? Padahal mulai dari dokter bedah, dokter anestesi, hingga kamar dan meja operasi yang digunakan adalah komponen yang sama. Mungkin ada yang beralasan bahwa kalau tarif Kelas I itu menggunakan obat-obatan dan alat kesehatan (obat dan alkes) yang mahal sehingga harganya tinggi. Akan tetapi bukankan penggunaan obat dan alkes itu pasien juga akan membayar secara terpisah, diluar sewa kamar operasi dan jasa pelayanan operatornya? Lalu dimanakah bedanya?
Terus terang sampai sekarang logika saya masih belum bisa menerima perbedaan tarif tindakan itu. Kalau perbedaan harga kamar perawatan, tentu saja bisa berbeda karena fasilitas yang disediakan rumah sakit tentunya akan berbeda untuk setiap kelas ruang perawatan. Tetapi kalau tindakan? Apakah artinya apabila tarif tindakan di Kelas I itu lebih besar yang bermakna pasien mendapatkan perawatan (bukan pelayanan/service) yang lebih? Bukankah ini berarti tidak akan pernah ada penyamarataan hak untuk mendapatkan pengobatan yang layak?
Menurut hemat saya dikotomi dalam hal pemberian perawatan itu justru akan menjadikan semakin besarnya jurang antara si kaya dan si miskin dalam mendapatkan haknya sebagai warga negara yang harus dipenuhi oleh negara. Pada akhirnya, akan meningkatkan keraguan terhadalpkualitas pelayanan di rumah sakit milik pemerintah. Lalu, kapan rumah sakit milik pemerintah ini dapat berkembang dan maju apabila tidak ada kepercayaan dari masyarakat?
Mungkin ini sekedar renungan, mungkin sekedar nggrenengan tidak berarti, tetapi saat ini hal ini masih terjadi. Semoga bermanfaat!




Hu uh , bener juragan …. tapi mungkin nek kelas 1 tingkat kesembuhannya luwih cepet karena perawatnya segerrrrrrrrr segerrrrrrr. wkwkkwkkw
@DenMas Nopan
Nah itu juga yang saya tidak habis pikir.. Kalau kita berkaca kepada bisnis hospitality lain seperti hotel misalnya perbedaan harga adalah karena fasilitas kamar (ukuran/letak/kelengkapan) tetapi perlakuan yang diterima mulai dari security sampai ke room boy semuanya sama kan?
Memang tidak bisa mutlak disamakan karena ada perbedaan, tetapi apakah artinya orang miskin yang rawat inap dikelas III tidak berhak mendapatkan senyum yang sama dengan yg diberikan perawat kepada pasien di kelas I?
Tapi juga perlu diketahui sudah banyak rumah sakit yang juga tidak membedakan dalam hal pelayanan, perbedaannya hanya dalam fasilitas yang dipilih pasien sendiri.
Begitu DenMas..