Sistem Rujukan Kesehatan di Indonesia

14 07 2008

Salah satu bagian penting dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan adalah rujukan kesehatan. Apa itu rujukan kesehatan? Rujukan kesehatan dapat disebut sebagai penyerahan tanggungjawab dari satu pelayanan kesehatan ke pelayanan kesehatan yang lain. Secara lengkap Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo mendefinisikan sistem rujukan sebagai suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal (dari unit yang lebih mampu menangani), atau secara horizontal (antar unit-unit yang setingkat kemampuannya). Sederhananya, sistem rujukan mengatur darimana dan harus kemana seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu memeriksakan keadaan sakitnya.

Bagan sistem rujukan dapat dilihat pada gambar berikut :

jenis-rujukan

rujukan-indonesia

Ketimpangan yang sering terjadi di masyarakat awam adalah pemahaman masyarakat tentang alur ini sangat rendah sehingga sebagian mereka tidak mendapatkan pelayanan yang sebagaimana mestinya. Masyarakat kebanyakan cenderung mengakses pelayanan kesehatan terdekat atau mungkin paling murah tanpa memperdulikan kompetensi institusi ataupun operator yang memberikan pelayanan. Ini merupakan salah satu akibat tidak berjalannya sistem rujukan kesehatan di Indonesia.

Pelaksanaan sistem rujukan di indonesia telah diatur dengan bentuk bertingkat atau berjenjang, yaitu pelayanan kesehatan tingkat pertama, kedua dan ketiga, dimana dalam pelaksanaannya tidak berdiri sendiri-sendiri namun berada di suatu sistem dan saling berhubungan. Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat melakukan tindakan medis tingkat primer maka ia menyerahkan tanggung jawab tersebut ke tingkat pelayanan di atasnya, demikian seterusnya. Apabila seluruh faktor pendukung (pemerintah, teknologi, transportasi) terpenuhi maka proses ini akan berjalan dengan baik dan masyarakat awam akan segera tertangani dengan tepat. Sebuah penelitian yang meneliti tentang sistem rujukan menyatakan bahwa beberapa hal yang dapat menyebabkan kegagalan proses rujukan yaitu tidak ada keterlibatan pihak tertentu yang seharusnya terkait, keterbatasan sarana, tidak ada dukungan peraturan.

Hingga saat ini, pelaksanaan sistem rujukan di Indonesia masih terus disempurnakan hingga nantinya dapat mengakses segala kekurangannya dan merubah kekurangan itu menjadi sebuah kelebihan agar sistem yang telah direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik. Semoga bermanfaat.

disarikan dari sini, sini, dan dari sini

About these ads

Actions

Information

19 responses

2 10 2008
limpo50

“Sebuah penelitian yang meneliti tentang sistem rujukan menyatakan bahwa beberapa hal yang dapat menyebabkan kegagalan proses rujukan yaitu tidak ada keterlibatan pihak tertentu yang seharusnya terkait, keterbatasan sarana, tidak ada dukungan peraturan.”
Dari kalimat ini, saya ingin mengomentari bahwa banyak proses rujukan seharusnya tak perlu dilakukan jika dalam pelayanan medik di RS perujuk, memperhatikan keterlibatan pihak tertentu yang seharusnya terkait. Keterbatasan seorang dokter dalam mengamati efek samping obat, tidak melibatkan farmasis, padahal mereka perlu dilibatkan jika ada kondisi kritis yang terjadi pada pemberian obat.

Salam

3 10 2008
Yuddi

@Pak Limpo
Proses rujukan medis lebih dimaknai karena batasan kompetensi, sehingga apabila pelaksana pelayanan kesehatan pertama yang menerima seorang pasien ternyata tidak memiliki kompetensi untuk merawat, mau tidak mau, suka tidak suka, setelah memberikan pertolongan pertama sebaiknya segera merujuk kepada institusi/pelaksana kesehatan yang lebih berkompeten.
Demikian pula rujukan kesehatan yang disebabkan keterbatasan ketersediaan sarana. Mengingat keterbatasan sarana ini akhirnya perlu dilakukan rujukan.

Mengomentari pernyataan tentang keterbatasan dokter dalam mengamati efek samping obat yang diresepkan, lebih kepada kemampuan dokter ybs, tidak berhubungan dengan keterbatasan kompetensi.

Salam.

15 11 2008
limpo50

ya… saya setuju. Tapi kadang kalo dengar keluhan dokter perujuk yang menangisi pasiennya kadang-kadang kita berfikir juga.
Salah satu kasus terjadi karena pasien minta dirujuk, ternyata lebih parah penanganannya… dan gara-gara pasien meninggal begitu, sang dokter menjadi sedih…mengenang tanggung jawabnya.

28 11 2008
Yuddi

wah .. jadi miris juga yah .. itulah salah satu ketimpangan sistem rujukan kita.. terutama buat kelompok masyarakat tertentu..

pengamatan saya pribadi.. contohnya pada salah satu BUMN… pasien dengan enaknya minta di buatkan surat rujukan kepada dokter umum yang harusnya bertugas sebagai garda depan, apalagi kalau ybs memiliki posisi yang tinggi di perusahaan itu.. wah .. udah deh ga perlu pake periksa.. langsung ajah d kirim ke spesialis.. nyatanya? hehehe Pak Limpo pasti lebih tau…

7 02 2009
Nurhayati

memang petugas kesehatan banyak menghadapi masalah khususnya masalah rujukan ini, apa lagi di daerah terpencil saat menghadapi masyarakat yang masih awam, mencari pertolongan saat udah kritis, belum lagi tempat merujuk jauh dari jangkauan masih butuh waktu lama untuk mereka memutuskan dalam hal ini keluarga merasa keberatan untuk merujuk dengan banyak pertimbangan. dalam kondisi seperti ini tidak jarang menyebabkan keterlambatan dalam penanganan lanjut pada pasien.

9 02 2009
Yuddi

@Bu Nurhayati
Semacam dilema profesi ya Bu? Atau ibarat buah simalakama. Hanya saja sayangnya masih banyak petugas kesehatan yang juga kurang memperhatikan kaidah dan makna rujukan sehingga petugas kesehatan yang seharusnya menjadi “informatic agent” untuk masyarakat yang berada jauh dari jangkauan fasilitas kesehatan lanjutan akhirnya tidak mampu lagi menjalankan fungsinya.

31 03 2009
limpo50

Departemen kita masih terkotak manajemennya….

31 03 2009
Yuddi

@Pak Limpo
Maaf pak, saya kurang paham dengan makna “terkotak” seperti yang dimaksud Pak Limpo?
Apakah masih banyak jalur birokrasi, atau “beda bos beda kebijakan”, atau yang bagaimana nih Pak?

Mohon pencerahan.. terima kasih.

12 12 2013
mega

maaf pak saya ingin tanya apakah dalam proses rujukan misalnya sudah dalam perjalanan menuju RS sasaran rujukan, tetapi pasien tersebut meninggal. apakah penanggung pasien sudah di limpahkan ke RS sasaran rujukan atau masih tanggung jawab rumah sakit yangmengajukan rujukan ?

16 12 2013
Yuddi

Mohon maaf saya masih kurang jelas, tanggung jawab apa yang dimaksud ya?

1 04 2009
limpo50

Mas, di Departemen kita semua Bidang punya kerajaannya sendiri-sendiri dan tak terbuka untuk saling isi sesuai bidang yang digeluti… Jadi urusan data misalnya di Yankes dan P2 mereka urus sendiri polanya padahal ada yang cocok ngurusi data, tinggal yang punya tugas teknis memperbaiki urusan teknisnya.
Urusan di Bagian Bencana juga demikian, semua soal dikerjakan sendiri… .
Bukankah kita kalo mau dirikan RS, tak perlu orang kesehatan yang menggambar dan memasang batu sendiri ??
Begitu pula terjadi lintas Departemen, lihatlah Dep. Agama yang mengurusi pemberangkatan dan urusan tetek bengek yang bukan bidangnya…, maka jemaah selalu mendapat pelayanan yang tidak profesional…
Aih… pokoknya dimana ada duit, maka pagar semakin tinggi… gitulah kesimpulannya.
Herannya di Kesehatan masyarakat, malah antusias menyoal Manajemen RS…saya rasa tambah runyam… akhirnya pola intervensi kesehatan masyarakat (lingkungan) ditinggalkan dan tak efektif gaungnya.
Apakah ini juga tercerminan dari Sikap Bos-bos yang lebih suka pada Proyek ? bukan pada konsep perbaikan kesehatan di masyarakat ?
itu dia dimana ada…duit. Kesana arah pandangan.
Apakah kotak kita bisa dinamakan …kotak KEPENG??

12 12 2013
mega

apakah tindakan rujukan yang di ajukan puskesmas ke rumah sakit dapat di kembalikan perawatannya, apabila pasien yang dirujuk sudah membaik ?
mohon jawabannya

16 12 2013
Yuddi

Pasien dengan keadaan yang sudah membaik, dimungkinkan untuk melanjutkan perawatan kepada pelayanan kesehatan yang melakukan rujukan pertama kali. Tentu saja ini berdasarkan kesepakatan dokter dan pasien yang bersangkutan dengan tetap mempertimbangkan opini dokter terkait perkembangan pasien. Oleh karena itu perlu juga untuk menumbuhkan persepsi yang sama tentang makna “membaik” dari versi dokter dan pasien (maupun keluarga).

4 04 2009
Yuddi

Ha ha ..

Membaca ulasan Pak Limpo saya jadi ingat kalau di bidang kedokteran sendiri banyak yang rebutan lahan spesialisasi…

Ada dokter gigi anak yang merasa kalau masih masuk kategori usia anak-anak, bahkan masang kawat gigi pun harus di kerjakan dirinya, dan bertentangan dengan TS nya yg spesialis orthodonsi…

dst..

dst..

Wah.. ternyata masih banyak PR nya bangsa ini ya Pak..

2 12 2009
mahfudhdinsyah

makasi pak yudi dan pak limpo, dpt bnyak ilmu niy…..

3 12 2009
Yuddi

sama-sama pak.. monggo kalo ingin diskusi :)

20 10 2010
riza

qo ga bisa dilihat bagannya

21 12 2010
Yuddi

mohon maaf .. link yang dituju untuk gambar tersebut “no longer available”.. saya usahakan upload yang terbaru.. terima kasih

3 01 2011
2010 in review « Sehat Untuk Semua

[…] The busiest day of the year was December 21st with 147 views. The most popular post that day was Sistem Rujukan Kesehatan di Indonesia. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s